“21″????

Apa yang terlintasĀ  dalam benak anda mendengar kata 21???

Eit….. 21 bukan biokop cinema kesayangan anda lho, tapi 21 merupakan korban kematian “tragedi pasuruan” yang menelan 21 korban jiwa. Berawal dari pembagian zakat mal senilai Rp.30.000,- dari H. Saikon saudagar kaya raya asal pasuruan yang dikenal sangat dermawan.

sungguh ironos sekali hanya karena uang tiga puluh ribu rupiah harus dibayar dengan kematian. Memang bagi orang yang tidak mampu Rp.30.000 sangatlah berarti. Tapi bukan itu yang akan saya permasalahkan, disini saya tidak untuk menyalahkan H. Saikon… y biar H. Saikon mempertanggung jawabkannya pada Allah SWT. Karena pengadilan yang seadil-adilnya Hanya Dia Sang Pencipta.

Dari kasus diatas menurut anda ada g sih kaitannya dengan MANAJEMEN????

Jika saya menjadi H. Saikon, hal yang pertama dilakukan untuk membagikan zakat yaitu melihat kebelakang pada tahun 2007 hal serupa pun terjadi atas kasus pembagian zakat di tanggal 15Ramadhan. Maka diperlukan suatu strategi untuk berlangsungnya pembagian zakat, strategi itu bisa disebut dengan manajemen. Manajemen yang akan saya lakukan adalah:

1. melakukan perencanaan

perencanaan yang akan saya lakukan adalah mendata fakir miskin yang ada di daerah tempat kita tinggal, menyediakan dan memperkiraan zakat yang akan dikeluarkan karena jangan sampai fakir miskin yang jauh-jauh datang meminta zakat harus kecewa akibat tidak kebagian zakat. Nah… bagaimana agar semua terbagi rata?? kita melakukan pengorganisasian.

2. Mengorganisasikan

Untuk hal pengorganisasiannya pembagian zakat kepada fakir miskin yang sudah di data dilakukan dengan membagikan tiket atau karcis untuk mendapatkan zakat tersebut, ini dilakukan agar zakat yang dibagikan rata dan penerima zakat pun dapat mengambil zakat kapan pun atau tidak pada satu waktu untuk menghindari berjubal-jubal manusia mendapatkan zakat.

3. Kepemimpinan

Untuk berlangsungnya apa yang menjadi tujuan maka diperlukan tanggungjawab dari pembagi zakat, dengan adanya kerjasama dengan pihak amil zakat atau panitian pembagi zakat. Kepemimpinan harus menjadi tolak ukur yang akan dilakukan oleh panitia atau amil zakat.

Untuk para dermawan jika akan memberikan sebagian harta kita untuk orang yang memiliki hak mendapatkan zakat hendaknya harus melakukan persiapan atau manajemen sementara. Hingga apa yang kita lakukan tujuannya mulia jangan sampai menimbulkan dosa apalagi sampai menghilangkan nyawa manusia. Manajemen penting… manajemen bukan untuk perusahaan atau organisasi tapi manajemen zakat dan manajemen diri.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.